Siapa tak kenal keindahan dan keeksotikan alam Indonesia, tanyakan kepada Herman Willem Daendels orang Belanda yang pernah menjadi penguasa Hindia Belanda pada masa penjajahan, tanyakan pula pada Dr. Joseph Arnold dan Thomas Stamford Raffles beserta pemandunya yang menemukan bunga Rafflesia Arnoldii, lalu tanyakan juga pada Alm. Crhisye yang pernah membawakan lagu Zamrud Khatulistiwa, dan kemudian tanyakan pula pada Mas Farid Ghaban dan Ahmad Yunus yang pernah melakukan ekspedisi keliling Indonesia dengan sepeda motornya. Pasti kesemuanya setuju dengan pendapat bahwa alam Indonesia merupakan salah satu surga dunia.

Teringat saya akan lirik dalam lagu Zamrud Khatulistiwa yaitu,
S’lalu berseri, alam indah permai di indonesia
Negeri tali jiwa hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan burung berkicau ria
Bermandi embun surga

Namun ketika lirik ini selesai saya rekam ulang, pemandangan alam Pulau Tidung menjadikan lagu Zamrud Khatulistiwa tersebut seakan-akan menjadi fatamorgana di gurun pasir.
Tumpukan kardus-kardus bekas wadah gelas-gelasair mineral, bungkus-bungkus nasi para wisatawan, sampai sepatu atau sandal yang tercecer di pinggir pantai, menjadi pemandangan yang lumrah bagi manusia-manusia yang berlalu-lalang.

Seketika saya pun berfikir, apa yang akan terjadi jika kardus-kardus dan sepatu atau sandal ini dibiarkan berserakan menyampah sampai berpuluh-puluh tahun kemudian? Apakah harus anak-anak saya dikemudian hari, merengek-rengek meminta saya mengajaknya tiap hari libur pergi ke hawaii, thailand, spanyol, atau negara-negara lain yang masih memiliki dan mempunyai pemandangan alam yang indah dan lestari? Ouww..sungguh tak terbayang kondisi dompet saya serta orangtua-orangtua yang hidup pada masa itu.

Saya bukan guru yang selalu menggurui anak muridnya, saya juga bukan penceramah, yang akan memberikan ceramahnya pada jamaatnya. Saya adalah SAYA, yang kelak akan hidup pada masa dimana eksistensi alam Indonesia telah pudar, dan ketika masa itu benar-benar terlaksana, saya dan jutaan orang yang masih hidup sampai masa itu hanya akan terpaku menyesal akan kelalaian kami sebagai manusia.