Sebagian kita mungkin sudah pernah menonton film War Photography. Sebuah film yang menceritakan perjalanan seorang fotografer Amerika.
Dalam film tersebut, dikisahkan perjalanan seorang James Nachtwey yang merupakan seorang fotografer  perang di Palestina, Kosovo, Afrika dan Indonesia. Namun ketika di Indonesia James yang datang pada saat terjadinya kerusuhan ’98, tidak hanya mengabadikan kerusuhan tersebut saja, namun juga mengabadikan kehidupan masyarakat kelas bawah di Indonesia.

Dari film itu, saya mengambil sebuah ucapan dari James Nachtwey yang dalam bahasa Indonesianya yaitu “Sebuah foto bukanlah untuk menaikkan jabatan saya. Sebuah foto bukanlah untuk saya mendapatkan selembar uang. Namun sebuah foto merupakan sebuah teman renungan saya, bahwa hidup tidak seindah seperti yang ada didalam foto”.

Melalui film dokumenter yang berhasil mendapatkan 2003 Peabody Award dan dinominasikan dalam ajang Oscar 2002, Emmy Award 2004 ini dan beberapa pengharaggan internasional lainnya, Frei mengajak penonton untuk memasuki dunia foto jurnalistik bersama James Nachtwey, bahkan dalam beberapa adegan kita akan dibawa kedalam sudut pandang James dimana dua buah kamera video micro benar-benar disimpan dalam kamera SLR pria berusia 62 tahun ini sehingga penonton dapat melihat secara langsung objek yang akan diabadikannya, mendegar secara langsung desah nafas James, suara angin, bahkan suara ‘klik’ kamera.

James juga membawa kita berpetualang bersama para redaktur majalah ternama ke berbagai belahan dunia yang dilanda peperangan dan konflik, dari puing-puing paska perang dan kuburan massal di Kosovo, konflik berkepanjangan di perbatasan Palestina, bahkan sampai masalah kemiskinan dan gejolak politik tahun 1999 di negara kita, Indonesia. Semuanya tergambar dalam jepretan foto-foto pria yang sudah melakukan pekerjaannya sebagai fotografer lepas sejak tahun 1981 ini. Foto-foto yang diabadikan James memang sepintas terlihat indah, namun jelas dibalik keindahaan itu tidak ada senyum bahagia dalam wajah setiap orang didalamnya, hampir semuanya dihiasi dengan aroma kesedihan, tangis dan duka akibat peperangan dan kemiskinan, sebuah pemadangan yang akan membuat kita merasa miris melihatnya. Ya, James seakan-akan menjadi wakil ‘mata’ kita untuk menyaksikan bagaimana begitu besarnya dampak peperangan dan kemiskinan yang selama mungkin selama ini luput dari pandangan kita.

Sebuah foto memiliki sejuta makna. Melalui War Photographer Christian Frei sukses menghadirkan sebuah pengalaman luar biasa menonton dokumenter. Sebuah dokumenter kuat dimana segala permasalahan tentang kemanusiaan, perang, sosial dan politik mampu terlihat berbeda melalui mata seorang fotografer hebat bernama James Nachtwey

James Nachtwey: ” For me, the strength of photography lies in its ability to evoke humanity. If war is an attempt to negate humanity, then photography can be perceived as the opposite of war “