“Mas punya filter CPL mas, untuk ring 77 ?”

“Ada mas, mau merek apa mas? Althabasca, B+W, Kenko, Hoya, Marumi ?”

“Althabasca itu berapaan mas ?”

“Kalo Althabasca itu sekitar 500ribuan”

Seketika otak ini langsung beripikir ulang untuk membeli salah satu peralatan pendukung yang telah sangat terkenal di dunia fotografi landscaper, yaitu filter CPL. Beberapa orang awam mengatakan bahwa filter tersebut sangat berguna untuk menaikkan level warna biru langit menjadi lebih tinggi. Dengan sedikit basa-basi yang terlalu basi, kaki ini langsung menggerakkan langkah seribunya untuk meninggalkan toko tersebut.

Dalam perbandingan antara harga dengan ukuran bentuk gadget yang akan dibeli itu, mungkin saya rasa tidaklah sebanding. Pro kontra pun sering terjadi diantara fotografer, bagi sebagian fotografer, keberadaan filter CPL itu sangatlah berguna, dan akan menjadi sepadan dengan harga yang akan dibayarkan, ketika kita melihat hasil yang dikeluarkan dari filter tersebut, namun sebagian fotografer mengatakan, “ngapain ngeluarin uang sampe segitunya hanya untuk beli filter, kan uda ada photoshop.” Apapun pendapat yang dikeluarkan masing-masing memiliki kebenaran maupun kesalahan. Saat ini lupakanlah pembahasan mengenai besar kecilnya jumlah uang yang dikeluarkan, atau detil-mendetil kegunaan dari masing-masing gadget dalam fotografi. Karena pada intinya uang bukan segala-galanya serta gadget bukan menjadi jaminan kesuksesan seseorang.

Mungkin sangat jarang manusia di muka bumi ini, yang tidak pernah merasakan cahaya yang dikeluarkan oleh suatu benda elektronik yang kemudian menimbulkan gambar. Hampir dipastikan saat ini, manusia di muka bumi ini pernah merasakan di foto ataupun memfoto. Sebuah foto pun menjadi salah satu senjata utama dalam mempromosikan sesuatu produk maupun jasa. Ambil sebuah contoh, dimana dunia pariwisata selalu menampilkan beberapa karya fotografi untuk menunjukkan bahwa suatu daerah ataupun suatu negara memiliki keunikan atau keistimewaan yang khas. Lihat kejalanan di dekat anda, berapa banyak foto-foto dalam sebuah banner yang besar maupun kecil, yang berada disekitar anda?

Bagi saya dan beberapa orang, mengatakan bahwa fotografi bukan lagi sebuah fenomena yang memiliki musimnya, karena bagi saya fotografi tidak mengenal musim. Fotografi telah menjadi sebuah kegiatan yang selalu berulang-ulang tanpa pernah berhenti, bukan lagi menjadi hobby musiman. Jadi jangan heran ketika mendengar kata “agama” dalam dunia fotografi, karena fotografi benar-benar telah menjadi sebuah agama baru dalam kehidupan masyarakat. Mereka memiliki kitab-kitab dasar yang selalu dianut oleh para fotografer dan mereka selalu percaya akan ajaran yang disampaikan kitab-kitab tersebut.

Ketika fotografer datang ke suatu alam yang indah, alam pun seakan langsung bergaya dengan cerianya, seakan ingin mengatakan, “narsis dulu ahh.” Namun apakah fotografi selalu berkutat dengan alam yang eksotis nan rupawan, yang keberadaannya belum tentu berada didekat kita?  Silahkan masing-masing anda menjawabnya.

Bersambung..