_MG_9213 sz

“Teettt…..Teettt…”

Kebisingan masih tetap terjaga di malam itu, entah suara apa itu, mungkin seperti suara klakson sebuah kapal ferry atau mungkin pula sebuah klakson bus-bus besar. Tapi yang pasti bunyi itu sudah mampu membuat bising daerah sekitar, dan telah mampu menarik kaki ini melangkah kearahnya.

Dinginnya udara malam Yogyakarta seakan berubah menjadi hangatnya kota asal saya. Bukan karena polusi yang menutupi langit, sehingga merubah cuaca dingin menjadi panas, bukan pula karena ketiadaan pohon-pohon yang menjadi paru-paru sebuah kota, namun hangatnya cuaca sekitar Yogyakarta karena ratusan mungkin ribuan orang yang datang menuju Alun-Alun Keraton Yogyakarta malam itu. Ya, kota bakpia pada malam minggu ini sedang mengadakan sebuah pasar malam yang orang sekitar sering mengucapkannya dengan “Sekaten

Dua hari sudah saya tiba di kota ini, bersama dengan dua orang teman saya. Beberapa hal yang menyebabkan kedatangan saya dan dua orang teman saya mengunjungi kota bakpia ini, satu hal yang menjadi penyebab kedatangan kami yaitu, kami akan melakukan hunting foto.

Sore tadi, kami bertiga setelah berjalan-jalan mengitari komplek Keraton Yogyakarta, kami langsung bergegas menuju Pantai Glagah untuk menikmati sunset dari pantai tersebut yang berada di daerah Kulon Progo, Yogyakarta. Berjejer layangan-layangan yang berterbangan di udara. Muda, tua, pria hingga wanita bermain-main dengan layangan-layangannya di pinggir Pantai Glagah itu dengan asyiknya, disertai semilir angin laut dan sinar mentari yang mulai terbenam semakin menggoda tangan ini untuk menekan tombol shutter pada kamera saya.

Jam tangan saya telah menujukkan pukul setengah sepuluh malam, suasana sekaten bukannya menjadi sepi, malah semakin ramai. Saya beserta kedua teman saya telah sama-sama mengeluarkan kamera masing-masing. Saya mengeluarkan EOS 40D saya, teman saya Dias mengeluarkan EOS 1100D nya, sedangkan Ardhi mengeluarkan Nikon D7000nya. Untuk mengakomodir kondisi sekaten  yang begitu padatnya, masing-masing kami mengeluarkan lensa sudut lebar yang kami miliki. Saya menggunakan lensa Canon 17-40mm, Dias dengan lensa kit Canonnya 18-55mm, sedangkan Ardhi mengeluarkan lensa Nikon 18-200mm nya.

Dalam melakukan pemotretan di malam hari, terutama di tempat-tempat yang begitu ramai seperti sekaten ini, memang menuntut kita untuk melakukan beberapa hal yang praktis namun efisien. Praktis yang saya katakan di sini adalah di mana beberapa gadget atau peralatan yang dirasa tidak perlu atau mungkin dapat dikatakan lebih baik untuk tidak digunakan, sebaiknya tidak dikeluarkan. Beberapa peralatan yang saya rasa tidak perlu untuk dikeluarkan ketika memotret pada kondisi malam hari di tempat yang ramai seperti di atas antara lain:

  • Tripod;

Mengapa saya mengatakan tripod tidak diperlukan pada kondisi seperti di atas, karena ketika kita menggunakan tripod, terutama tripod yang memiliki panjang sampai dua meteran, malah menjadi pengganggu bagi orang-orang yang akan lalu lalang di sekitar kita, selain akan mengganggu orang yang lalu lalang, beberapa kali juga kaki-kaki tripod itu akan seringkali tersenggol orang-orang, terkecuali kita berada pada satu tempat yang sepi, namun dimungkinkan untuk tetap mengambil suasana ramai tempat tersebut.

  • Cable Shutter Release; 

Biasanya ketika kita menggunakan sebuah tripod, satu peralatan yang mungkin dan seringkali menjadi tandem dari tripod adalah cable release. Cable release adalah merupakan sebuah kabel yang berguna bagi kita untuk memotret tanpa harus menekan tombol shutter yang ada pada kamera kita. Keberadaan kabel ini, alih-alih akan membantu kita, malah akan menjadi bumerang bagi kita sendiri, panjangnya kabel tersebut, malah akan terinjak-injak oleh orang-orang, atau bahkan akan menyebabkan orang-orang yang lalu lalang tersandung oleh kabel kita.

  • Flash Eksternal; 

Keberadaan flash memang sangatlah membantu kita ketika kita akan memotret pada situasi malam hari, namun dalam keadaan ini yang mana kita berada pada satu tempat yang sangat ramai, malah dirasakan tidak perlu. Coba rasakan cahaya flash yang kita tembakan dari kamera atau sekedar menembakkannya dari tombol yang berada pada flash itu sendiri, lalu arahkan persis ke muka kita. Apa yang akan kita rasakan? Silau.- itu pasti satu jawaban yang akan terucapkan pertama kali dari mulut kita. So, coba kalian bayangkan bagaimana kita menembakkan flash kita, ditengah-tengah orang-orang yang sedang lalu lalang di depan kita. Walau kita tak memiliki niatan untuk menjahili atau mungkin merusak kenyamanan mereka, namun cukup sekali tembakan saja, cahaya itu sudah cukup membuat orang-orang menjadi risih. Jalan keluarnya mungkin dengan mengarahkan flash kita ke arah atas, untuk beberapa hal, mengarahkan flash ke atas, berguna untuk mengisi atau terkadang pula untuk menyebarkan cahaya, namun sekali lagi, apalah gunanya mengarahkan flash ke atas, yang jelas-jelas di atas kita yang ada hanyalah dinding transparan yang entah berujung pada satu tempat yang sangat jauh di sana.

  • Lensa Super Tele

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, di mana kami bertiga sama-sama menggunakan lensa-lensa sudut lebar (wide), yang notabenenya memiliki body yang tidak panjang, selain karena kami ingin mengambil objek secara luas, dipilihnya lensa-lensa tersebut, dikarenakan juga salah satu aspek, yaitu aspek kenyamanan. Mari kita ambil contoh lagi. Coba anda gantungkan lensa tele anda, seperti 70-200mm, 75-300mm, 70-300mm, dan lain-lain, gantungkan strap kamera anda di bahu anda, sehingga posisi kamera persis berada di samping pinggul anda, coba praktekkan di tengah-tengah pasar yang ramai atau di tempat manapun yang ramai pengunjungnya. Percaya atau tidak, kamera atau lensa kita akan terus menerus tersenggol orang-orang yang lalu lalang melintasi kita. Lalu coba bidik sesuatu yang akan menjadi objek foto anda, bidik di tengah orang-orang yang lalu lalang di depan anda, minimal frame foto anda akan terus menerus terisi rambut, pundak, telinga, kepala orang-orang tersebut, atau mungkin yang lebih parah, ketika anda membidik, orang yang bengong, atau yang tak memperhatikan anda yang sedang membidik objek foto, dengan tanpa sengaja akan menyenggol lensa panjang anda.

Namun semua itu kembali lagi kepada masing-masing kita, beberapa peralatan masih dimungkinkan untuk digunakan, tetapi yang pasti tetap hargai orang-orang yang ada di sekitar kita.

Bersambung 

https://a2photoworks.wordpress.com/2012/12/29/memulai-foto-pada-malam-hari-part-ii-finish/

A2 Photoworks

081213005964 / 081318136666 / 081808780414
PIN BB : 297A1BEC